English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tipsone(Free Tips and Trick)

Paypal For Business

Free Premium Themes
Showing posts with label Apa Kabar Aceh. Show all posts
Showing posts with label Apa Kabar Aceh. Show all posts

Friday, December 17, 2010

JK Resmikan 200 Rumah Korban Tsunami

LHOKSUKON - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, HM Jusuf Kalla (JK), Rabu (15/12) meresmikan penggunaan 200 rumah bantuan Hongkong Red Cross (HRC) untuk korban tsunami di Desa Kuta Geulumpang, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Peresmian tersebut ditandai dengan penyerahan kunci rumah secara simbolis kepada sejumlah pemilik rumah. Acara itu juga dihadiri Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid dan unsur Muspida, serta Chairman of Internasional Relief Service HRC, Lady Ivy Wu JP.

“Kami berharap rumah ini bisa dirawat dan dikelola dengan baik,” harap mantan Wakil Presiden RI itu. Sementara Lady menyebutkan pihaknya juga telah membangun 950 rumah untuk korban tsunami di Kecamatan Samudera, Lapang, dan Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara.

Setelah itu, Jusuf Kalla mengunjungi Rumah Sakit PMI Aceh Utara. Saat di rumah sakit itu, JK yang didampingi Kepala RS PMI dr Ridwan dan Ketua PMI Cabang Aceh Utara, Tgk H Saifuddin Ilyas, meninjau ruang rawat inap, ruangan peralatan medis seperti kamar Rontigen. JK juga menjenguk pasien ke sejumlah ruang rawat inap.

Dalam wawancara dengan Serambi, Jusuf Kalla berjanji pihaknya akan memperhatikan Rumah Sakit PMI Aceh Utara, terutama terkait dengan peralatan medis. “Kita akan bantu sesuai kemampuan dan kebutuhan rumah sakit. Yang penting RS PMI Aceh Utara akan kita tingkatkan,” kata JK.

Ditanya tanggapannya tentang kondisi rumah sakit PMI Aceh Utara, Jusuf Kalla mengakui rumah sakit membutuhkan pembangunan fisik. Ia menganjurkan Ketua PMI Aceh Utara untuk membuat program pembangunan fisik lantai dua, karena kalau untuk pengembangan bangunan tidak mungkin lagi.

Sementara Ketua PMI Aceh Utara, Saifuddin Ilyas, meminta agar PMI Pusat segera menyalurkan bantuan untuk pembangunan rumah sakit mini dengan sumber dana dari Palang Merah Bahrai Rp 9 miliar di Aceh Utara. “Kami berharap PMI Pusat menyetujui proposal pembangunan Wisma PMI Aceh Utara,” harap Saifuddin.(c46/ib)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Sekeluarga Tewas Tabrakan

LHOKSUKON - Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anaknya, warga Desa Tunong, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Rabu (15/12) sekitar pukul 18.40 WIB tewas tabrakan. Kecelakaan tersebut terjadi saat sepmor jenis Vario yang mereka tumpangi menghantam truk interkuler yang parkir di pinggir jalan Medan-Banda Aceh tepatnya di Desa Pulo, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Ketiga korban itu adalah Surjani (45), Nurmala (35), dan Ayu (9).

Kapolres Aceh Utara AKBP Farid Bachtiar Efendi, melalui Kasat Lantas AKP Siswara Hadi Chandra, kepada Serambi, kemarin, menyebutkan saat kejadian sepmor Vario nopol BL 3287 NP yang dikendarai oleh Surjani melaju dari arah Medan menuju Banda Aceh.

Setiba di lokasi, sepmor itu langsung menghantam interkuler nopol BL 9435 AA yang disopiri Syahrizal (22), warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Singkil.

“Interkuler tersebut parkir di pinggir jalan sebelah kiri karena rusak. Pengendara sepmor tak dapat menghentikan laju kendaraannya yang melaju dalam kecepatan tinggi dan hilang kendali. Sehingga tabrakan tak dapat dielakkan,” jelas AKP Siswara.

Ketiga korban tewas seketika di lokasi kejadian. Setelah itu, masyarakat yang melihat peristiwa itu bersama personel polisi lalu lintas membawa korban ke Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe. Sedangkan barang bukti berupa sepmor dan interkuler dibawa ke Pos Polantas Terminal Lhoksukon. “Kita masih memintai keterangan sopir interkuler,” pungkas AKP Siswara.

Sementara ketiga jenazah korban sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (16/12) dimakamkan di Desa Tunong, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Tiga kritis
Secara terpisah, kecelakaan lalu lintas ala laga kambing antara dua sepeda motor terjadi di jalan Banda Aceh-Medan tepatnya di kawasan Desa Ie Rhop Geulumpang, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, Rabu (15/12) sekira pukul 20.00 WIB. Akibatnya, seorang pengendara mengalami patah kaki dan dua lainnya mengalami luka berat di wajah.

Informasi dihimpun dari dokter piket UGD RSUD dr Fauziah Bireuen, kemarin malam menyebutkan, ketiga korban itu adalah Kamarullah (23) yang mengalami patah pinggang dan remuk wajah dan rekannya Ismaturrahmi (23) mengalami patah di kaki kirinya. Mereka adalah warga Desa Ule Rabo, Kecamatan Jeunieb. Satu korban lainnya tanpa identitas, namun ia sempat menyebutkan dirinya bernama Muzakkir yang beralamat Desa Blang Baro Cebo, Pidie Jaya.

Menurut keterangan warga, sepmor jenis Supra Fit yang dikendarai Kamarullah bersama Ismaturrahmi datang dari arah Jeunieb menuju Samalanga. Sedangkan Muzakkir dari arah barat hendak ke Jeunieb. Sehingga terjadilah tabrakan di kawasan itu. Setelah itu, ketiga korban dalam kondisi kritis segera dibawa ke UGD RSUD Bireuen oleh warga setempat.

Kamarullah dan Ismaturrahmi, Kamis (16/12) pukul 03.00 WIB dirujuk ke Banda Aceh. Sementara Muzakkir yang sempat tidak sadarkan diri hampir empat jam saat di RSUD Bireuen baru dirujuk kemarin pagi.(c46/yus)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Tuesday, December 14, 2010

Rumah Warga Terendam, Sekolah Diliburkan

LHOKSUKON - Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Aceh Utara, akibat meluapnya sejumlah sungai induk, kini dilaporkan semakin meluas. Meski tidak ada laporan korban jiwa, namun banjir di pengujung tahun 2010 ini telah menyebabkan ratusan rumah warga terendam dan sejumlah sekolah terpaksa diliburkan.

Dua sungai rawan banjir adalah Sungai Krueng Pase yang melintasi beberapa Kecamatan di kawasan Meurah Mulia, Samudera, Tanah Luas, Nibong yang jumlah alirannya 10 kecamatan, termasuk Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Sementara satu sungai lagi adalah Sungai Peutoe yang membelah Kota Lhoksukon, yang melintasi beberapa kecamatan sampai ke Lapang, Tanah Pasir dan Cot Girek.

Kedua sungai tersebut di Aceh Utara, termasuk satu lagi adalah Sungai Arakundoe, perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur, sejak zaman Kolonial Belanda dikenal rawan banjir. Tiap pengujung tahun, 10 sampai 15 kecamatan di Aceh Utara, dilanda banjir kiriman. Dalam pengamatan Serambi Kamis (9/12) ketinggian air mencapai 1,5 meter, dan air mulai meluap sejak pukul 03.00 WIB dinihari.

Warga di Desa Lawang, Alue Tho, Tanjong Haji Muda, Hagu, dan Desa Meuria, Kecamatan Matang Kuli terlihat membuka dapur umum. Sedangkan di Kecamatan Geureudong Pase, desa yang terendam yakni Desa Rayeuk Jawa, Alue Awee, dan Desa Darussalam. Di Kecamatan Lhoksukon, desa yang terendam banjir Desa Dayah, Beuringen, Ngga, dan Desa Keude Lhoksukon.

Akibat banjir kali ini, puluhan rumah terendam, dan sejumlah sekolah terpaksa diliburkan. Sekolah diliburkan yakni MTSN1 Matang Kuli, SMAN 1 Matang Kuli, SDN Alue Tho, dan SDN Teupin Jaloh di Kecamatan Matang Kuli. Selaini tu, tanggul DAS Krueng Pase, di Desa Tanjong Awee, Kecamatan Samudera jebol.

Wakil Bupati Aceh Utara, Syarifuddin SE, dilaporkan ikut meninjau lokasi jebolnya tanggul di Desa Tanjong Awee, Kecamatan Samudera. Sejauh ini, belum ada evakuasi yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara. Namun, relawan PMI, SAR, Tagana, dan RAPI tampak siaga di lokasi banjir.

Salurkan bantuan
Sementara itu, PT Arun NGL, menyalurkan bantuan masa panik untuk 1.500 jiwa di enam desa di Kecamatan Matang Kuli. Enam desa itu yakni Desa Lawang, Alue Tho, Tanjong Haji Muda, Hagu, dan Desa Meuria. Staf Humas PT Arun NGL, T Edy Safari, ditemui dilokasi banjir menyebutkan pihaknya menyalurkan bantuan berupa beras, mie instan, telur, dan minyak goreng. “Seluruh bantuan didistribusikan ke lokasi banjir dengan bantuan teman-teman relawan RAPI Aceh Utara,” sebut Edy Safari.

Sementara itu, anggota Komisi C, DPRA, Zulkifli Dolly, menyebutkan pihaknya telah menyampaikan persoalan pembangunan tanggul di DAS Krueng Pase, dan Krueng Keureuto di Kecamatan Matang Kuli pada Dinas Pengairan Provinsi Aceh. “Kabar terakhir saya terima, usulan program pembangunan tanggul telah dimasukkan dalam APBA 2011. Kita, di legislatif akan mengawal usulan tersebut, yang saat ini sedang dalam pembahasan,” sebut Zulkifli.

Sementara itu di Kecamatan Samudera Kamis (9/12), kembali terendam banjir, akibat meluap air dari tanggul sungai krueng Pase, proses belajar mengajar (PBM) di MIN Tanjong Awe, juga terhenti akibat sekolah itu ikut terendam.(c46/ib/c37)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Saturday, September 11, 2010

APA KABAR ACEH (2)

Selama 4 bulan di Aceh kami bertugas “mengajar” anak2 pengungsi sebagai bagian dari Mental Recovery Program…karena sebagain besar anak mengalami trauma. Metode belajar sambil bermainlah yang diterapkan..sehingga meskipun nama sekolah kami “Sekolah Ceria” namun prakteknya tidak seperti sekolah formal. Aku dan 2 orang temanku “bertugas” di Barak Punteut-Kota Lhokseumawe. Saat kami sampai barak belum selesai dibangun sehingga sementara para pengungsi tinggal di eks Lembaga Pemasyarakatan (LP) sambil menunggu selesainya pembangunan barak yang terletak di seberangnya.
Tahukah kau kawan apa tantangan terberat saat kita berada di daerah yang baru??? seperti yang kualami, diperlukan sedikitnya 2 minggu untuk beradaptasi dan “berdamai”. pertama komunikasi dengan anak-anak awalnya sulit karena tidak semua lancar berbahasa Indonesia akhirnya komunikasi ”gado2” kami berbahasa Indonesia mereka bahasa Aceh namun akhinya semua biasa teratasi…aku bersyukur…karena dari merekalah aku belajar bahasa Aceh…mereka siap jadi penterjemah saat ada orang yang bertanya dalam bahasa Aceh padaku. Langsung aja mereka akan berkata “Bek Bahasa Aceh hai…han jeut!! (maksudnya jangan bicara bahasa Aceh, gak ngerti). Hal kedua adalah Cuaca yang begitu panasnya…he2 sampai2 sepulang dari Aceh wajahku gosong banget!!. Hal ketiga adalah makanan, makanan Aceh seperti layaknya Sumatera dan Melayu pedas, berkuah dan bersantan. Tidak seperti beberapa bulan kemudian banyak pendatang yang mendirikan warung padang dan Warteg…waktu itu belum ada…jadilah selama sekitar 2 minggu itu perutku harus menyesuaikan dengan masakan Aceh…duh…duh…Kalau tidak ingat niat semula datang ke Aceh untuk apa mungkin udah kabur ke Jakarta. Alhamdulillah azzam masih kuat bertahan sampai akhir…toh itu semua berhasil kami lewati.
Ada satu moment yang tak akan pernah kulupakan…saat masih di Aceh sekitar bulan Maret 2005 terjadi Gempa Nias yang berkakuatan sekitar 8,7 skala Richter. Gempa terjadi sekitar pukul 11 malam..aku yang tinggal di Lantai dua sangat merasakan goncangan, bersama teman sekamarku kami bergegas turun…saat memegang pegangan pintu akan menuju tangga aku terayun-ayun kesana kemari karena kerasnya guncangan gempa. Aku buru2 menuruni tangga sambil beristighfar..sampai di bawah…aku baru ingat aku gak pake jilbab…akhirnya ditengah bumi yang masih bergoncang aku naik kembali ke kamarku untuk mengambil jilbab. Tak lama kemudian dari barak terdengar orang melantunkan Adzan..(Adzan di tengah malam???) itulah religiusnya masyarakat Aceh.
Aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di Barak jika suplai air terlambat ya harus siap tidak mandi karena air lebih diperlukan untuk keperluan rumah tangga seperti minum dan memasak. Jumlah barak yang terbatas membuat beberapa kepala keluarga pengungsi menempati 1 kamar barak bersamaan. Di tengah berbagai keterbatasan tersebut Satu hal yang kukagumi dari masyarakat Aceh..meskipun mereka dalam kesusahan tapi mereka amat memuliakan tamu…itu kami alami ketiga tugas kami berakhir…anak-anak yang kami ajar memberi kami “kado” kata mereka. Kado2 tersebut sebenarnya berasal dari bantuan2 yang mereka terima seperti handuk, peralatan mandi dan lain-lain. Saat berangkat dari Jakarta aku berfikir bahwa saat pulang dari Aceh nanti…tas-ku akan ringan karena barang bawaan kami habis digunakan…tapi ternyata kami salah…karena bawaan kami bertambah banyak…macam barang bawaan TKI tulah. Di Aceh pula aku punya keluarga angkat, Ayahku adalah Pak Geuchik (kepala kampung) aku punya ibu, abang, kakak, dan adek.



Hari itupun akhirnya datang…(bulan Juni saat kepulangan kami ke Jakarta)…setelah empat bulan lamanya kami di Aceh dengan segala kenangannya…yang tak akan kulupakan As long As my life. Dari Lhokseumawe kami menuju Banda Aceh Dahulu seperti saat kedatangan kami untuk selanjutnya akan “terbang” ke Jakarta. Masih kuingat beberapa muridku berjejer mengantar kami naik “labi-labi” (angkot di Aceh)..sebagian ada yang “ngambek” sambil berkata pokoknya ibu gak boleh pulang ke Jakarta…..Hmmmm berat rasanya ninggalin Aceh….tapi hidup harus berlanjut….tugas lain telah menanti.

Kini 5 tahun sudah setelah Tsunami itu. apa kabar Aceh sekarang???? pengen banget napak tilas lagi kesono….semoga ada umur dan rizki...Aku masih ingat sms yang dikirim teman saat bus yang kami naiki perlahan-lahan meninggalkan terminal Lhokseumawe menuju Banda Aceh…..”seutiap watee meupreh syeudara mandum”…..Buat seluruh masyarakat Aceh Teurimeung Geunaseh beuh!

Dedicated to : “My family” in Aceh (Bapak, ibu, kakak, abang, adek), dan sahabat-sahabatku tersayang..Peu haba??? Teurimeung Geunaseh beuh!! Pajan Geutanyoe jeut meurumpok loem????? loen rindu that:-(

Peu haba = Apa kabar?;
Teurimeung Geunaseh = Terimakasih;
Pajan Geutanyoe jeut meurumpok loem = kapan kita bertemu lagi;
Loen rindu that = gue kangen banget;

Sumber:http://ritarosieana.blogspot.com/
read more...

APA KABAR ACEH (1)

Daerah Istimewa Aceh/Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu Provinsi yang ada Di Indonesia. Letaknya di ujung paling Barat Pulau Sumatera. Kekhususan Aceh di banding daerah lain di Indonesia adalah penerapan syariat islam yang diatur secara khusus oleh undan-undang (Kanun Aceh). Di Indonesia ada 2 DI (Baca Daerah Istimewa) Yogyakarta dan Aceh, sementara Jakarta menyandang gelar Daerah Khusus Ibukota (DKI).

Sebelumnya tak pernah terbayang akan menginjakkan kaki bahkan tinggal di Bumi Serambi Mekkah (Bahasa Aceh Bumoe Seuramoe Mekkah). Maklum kondisi Aceh yang dilanda Konflik yang berkepanjangan membuat orang berfikir 2x untuk kesana. Siapa sangka akhirnya kujejakkan kakiku di Bumoe Iskandar Muda. Semua berawal dari Gempa dan Tsunami Mahadahsyat yang meluluhlantakkan Aceh dan beberapa wilayah lain seperti kepulauan Andaman dan Pukhet di Thailand pada 24 Desember 2004. Di Aceh sendiri tak kurang 200.000 orang lebih meninggal dan hilang. Kejadian ini segera menarik perhatian “ummat manusia” diberbagai penjuru Dunia…yang berbondong-bondong memberikan bantuan bagi Aceh.

Singkat cerita kami berangkat dari Jakarta 1 bulan setelah Tsunami (tepatnya 4 Februari 2005). Ada 10 orang relawan dari Jakarta yang nanti akan disebar di berbagai titik pengungsian di Aceh. Dari Bandara Soekarno-Hatta kami naek pesawat Garuda…aku sedikit deg2an…maklum itu adalah pengalaman pertamaku naek pesawat (he2…norak ya???)..Di pesawat sebagian besar penumpangnya adalah relawan dari berbagai NGO/organisasi dalam dan luar Negeri. Ada teman2 Resimen Mahasiswa (Menwa) yang akan melakukan evakuasi, NGO medis dan lain-lain. Pesawat berangkat dengan tujuan Bandara Iskandar Muda (Blang Bintang). Jakarta-Aceh ditempuh sekitar 3 Jam. Sebelum mendarat, dari atas pesawat kami dapat melihat pantai barat (Meulaboh) yang rata dengan tanah…membuatku tak kuasa menitikkan air mata. Tiba di Bandara Iskandar Muda, aku harus sudah mulai beradaptasi dengan udara yang begitu panasnya..Aceh sebagian besar dikelilingi laut, ditambah lagi “musnahnya” pohon2 karena di libas Tsunami.

Dari Bandara kami dijemput menuju Kantor Perwakilan NGO kami di Banda Aceh. Untuk selanjutnya kami bersepuluh akan “bertugas” di daerah berlainan. Sebelum berangkat ke tempat tugas masing-masing kami sempat berkeliling Banda Aceh. Nyata benar dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan Gempa dan tsunami. Banyak rumah yang hanya menyisakan lantainya saja atau lebih parah lagi pinjam istilah masyarakat setempat “rumah tak ada lagi, rumah tinggal laut”. Di beberapa tempat masih ditemukan mayat…Namun Anehnya…meskipun sekitarnya boleh dikatakan tak ada lagi yang tersisa namun Masjid masih berdiri dengan kokohnya seperti yang kami saksikan di Lampuuk. Lampuuk yang terkenal dengan keindahan pantainya hanya menyisakan sebuah Masjid yang masih kokoh berdiri sementara sekitarnya rata dengan tanah. Di beberapa tempat kami menyaksikan para relawan sedang menguburkan mayat di kuburan massal. Miris menyaksikannya…mayat2 yang dibungkus dengan plastic (Jika kita tidak tahu pasti akan menyangka tumpukan sampah). Di kuburkan bertingkat-tingkat selapis demi selapis. Kami juga mengunjungi tempat pengungsian dan “bermain” dengan anak-anak yang sebagian masih trauma.

Akhirnya tiba juga saat harus berpisah dengan teman2 yang akan “bertugas” di Banda Aceh…sementara aku dan 4 orang temanku “bertugas” di Lhokseumawe-Aceh Utara. Perjalanan Banda Aceh-Lhokseumawe ditempuh selama lebih kurang 7 jam. Namun faktanya hampir 10 Jam karena banyak berhenti untuk berbagai urusan. Hari sudah malam ketika kami sampai di Barak di Daerah Lhoksukon-Aceh Utara. Seorang teman Aceh menyambut kedatangan kami dan membantu menurunkan barang-barang kami.

Sumber:http://ritarosieana.blogspot.com/
read more...