English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tipsone(Free Tips and Trick)

Paypal For Business

Free Premium Themes
Showing posts with label Info Semasa. Show all posts
Showing posts with label Info Semasa. Show all posts

Wednesday, April 20, 2011

Dianiaya Oknum WH, Tersangka Khalwat Masuk RS


Laporan wartawan Serambi Indonesia, Saiful Bahri
LHOKSEUMAWE – Syukri (27) warga Kuala Meuraksa, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe diduga dianiaya oknum personil Wilayatul Hisbah (WH), Selasa (19/4/2011) subuh sekitar pukul 05.00 WIB.

Hal ini akibat Syukri yang dijadikan sebagai tersangka khalwat tersebut lari dari Kantor Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe di Jalan Darussalam.

Sedangkan kronologis pemukulan dari pengakuan dua sumber ini berbeda, pihak Syukri mengakui kalau dia dipukul tanpa ada perlawanan. Sedangkan pihak WH mengakui luka dialami Syukri akibat duel dengan personil WH.

Syukri ditemui di Rumah Sakit PMI Lhokseumawe, Rabu (20/4/2011) menjelaskan, kala itu dia baru saja bertamu ke sebuah rumah janda yang diakuinya sudah dianggap saudara di Desa Blang Te, Kecamatan Blang Mangat.
Sekitar pukul 24.00 WIB, dia pulang, namun dihentikan warga setempat. Dia diberi peringatan jangan bertamu lewat tengah malam. Hingga perkara ini pun sampai ke WH.

Saat menjelang shalat subuh, di Kantor WH, dia pun beralasan hendak kencing dan minta izin ke sumur. Saat di sumur melalui belakang, langsung melarikan diri.
Sampai di pajak Inpres atau sekitar 300 meter dari lokasi kantor, dia pun istirahat di atas sebuah becak dayung. Tiba-tiba datang personil WH dengan sepmor, dan tanpa basa-basi langsung memukulnya dengan pentungan pada bagian lehernya.

Saat itu dia pun hendak lari. Kedua kali pentungan pun dihantam dibagian kepalanya hingga pening. “Saat saya sudah jatuh, saya merasa seperti terus dianiaya. Lalu saat dicampak dalam mobil saya pun merasa pentungan kembali mendarat dipunggung saya,” jelasnya.

Akibat pemukulan itu dia mengaku darah memenuhi mulut, bahkan sampai di rumah sakit harus disedot dan luka di bagian dalam mulutnya pun harus dijahit. “Saya tidak bisa terima perlakuan ini. Dan kasus kekerasan yang saya alami ini akan kami tindaklanjuti ke pihak hukum,” jelasnya.

Kepala Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe, Azwar Abda, mengakui adanya insiden yang menyebabkan tersangka khlawat masuk rumah sakit. Namun menurutnya, ini terjadi akibat tersangka khalwat tersebut melakukan perlawanan saat ditangkap kembali.

Bahkan saat terjadi tarik menarik, baju tersangka pun putus kancing. “Terlihatlah pisau dipinggang Syukri. Kondisi inilah yang membuat duel antar petugas kami dan tersangka yang terus melakukan perlawanan terjadi,” paparnya.

Secara kedinasan pihaknya akan bertanggung jawab, biaya perawatan akan ditanggung. Bahkan dengan pihak keluarga telah ada kata kesepakatan damai, nantinya akan buat kenduri dan di peusijuk di Kantor Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe sesuai adat Aceh. ”Sedangkan untuk perkara khalwat juga nantinya dia akan menjalani pembinaan,” demikian Azwar Abda.

Sumber:"TRIBUNNEWS.COM"
read more...

Saturday, April 16, 2011

Hama serang puluhan hektar pisang

LHOKSEUMAWE- Hama serang puluhan tanaman pisang warangan di tiga kecamatan Pemko Lhokseumawe, menyebabkan tanaman layu dan mati sebelum dan saat sedang berbuah.

Hama yang dikenali sebagai pusarium ini umumnya menyerang hati pohon pisang hingga busuk dan mengeluarkan cairan merah pekat seperti darah, kemudian pohon mati secara perlahan-lahan. Bagi pohon yang sedang berbuah, harus segera dipanen sebelum tandannya ikut dijalari dan buahnya menjadi layu.

Penyakit ini sudah menyerang jauh hari di Kecamatan Muara Satu di daerah-daerah tertentu, kemudian meluas dalam beberapa bulan terakhir sehingga meresahkan petani pisang warangan yang ada di Lhokseumawe dan sekitarnya.

“Kami mengalami kerugian besar setelah pohon pisang yang kami tanam mati perlahan-lahan, dan kami tidak dapat mengendalikannya, sebab kami tidak tahu bagaimana membasmi hama ini,” keluh seorang petani pisang di Padang Sakti, Muara Satu, Nurdin, 40.

Penyakit yang mulanya muncul secara perlahan-lahan dan hampir menyeluruh di kecamatan yang terletak paling ujung barat Lhokseumawe itu, kemudian menjalar ke Kec. Muara Dua dan Blang Mangat, sehingga hasil-hasil buah pisang yang dihasilkan dan dibawa ke pasar kota dengan kondiri berpenyakit.

Pisang-pisang yang panen tak layak dengan kondisi buah yang kecil dan jumlah sisir yang sedikit dalam satu tandan, menyebabkan harganya jatuh anjlok. “Panen yang harus dilakukan bukan pada masanya itu mengakibatkan buahnya masak secara terpaksa dan tidak sempurna, keadaannnya seperti buah yang masak layu,” jelas Murtala, 35, petani lainnya.

Sementara Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Lhokseumawe, Rusli MS ketika ditanyai membenarkan hal itu terjadi dan pihaknya telah menerima begitu banyak keluhan, tetapi pihak dinas terkait tak dapat membantu setelah pihaknya melaporkan penyakit yang melanda tanaman pisang petani tersebut.

Rusli meminta pihak Dinas Pertanian Pemerintahan Aceh supaya menempatkan pihak pengamat dan penanggulangan hama penyakit di Lhokseumawe, dan mereka diharapkan mampu mengatasi persoalan yang sedang melanda petani. “Ini keadaan darurat, jadi harus cepat-cepat ditangani, sebelum penyakit ini menjalar dan terus meluas ke tempa lain,” tegasnya.


Sumber:"Waspada"
read more...

Friday, April 15, 2011

Sindikat Curanmor Digulung

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin

LHOKSEUMAWE – Aparat Polres Lhokseumawe bersama Polres Aceh Utara, berhasil menggulung sindikat pencurian sepeda motor (curanmor) yang kini sangat meresahkan masyarakat.

Dalam empat hari terakhir, polisi berhasil meringkus tiga tersangka dan mengamankan dua sepeda motor jenis Mio Soul ke Polres Lhokseumawe di lokasi berbeda.

Ketiga tersangka masing masing Jailani (28) warga Desa Meunasah Gunci Kecamatan Paya Bakong Aceh Utara, kemudian Saiful Bahri (22) dan Said Baihaqi (24) keduanya warga Desa Paya Unoe, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur sebagai penadah sepeda motor.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Kukuh Santoso melalui Humas AKP Ramdhan, Kamis (14/4/2011) menyebutkan pengungkapan kasus curanmor tersebut, berawal dari penangkapan Jailani oleh warga Geureughek, Kecamatan Paya Bakong Aceh Utara, pada Minggu (10/4/2011) lalu di desa setempat.

“Tersangka ditangkap, karena selama ini warga mencurigai aksi pemuda itu. Setelah diperiksa, warga tak menemukan adanya surat kelengkapan kenderaan yang dibawa, lalu tersangka langsung diserahkan ke Polsek Paya Bakong,” terang AKP Ramdhan.

Kepada polisi, tersangka mengaku salah satu sepmor jenis Mio Soul yang dicurinya berada di kawasan Blang Mangat Lhokseumawe.

“Dalam penyelidikan di sini, diketahui tersangka selama ini sudah mencuri lima sepmor, lalu menjualnya ke kawasan Aceh Timur melalui Siaful dan Said. Kemudian polisi langsung menangkap dua tersangka lagi di Aceh Timur,”kata AKP Ramdhan.

Disebutkan Ramdhan, selain dua sepmor yang telah diamankan, polisi juga mengamankan barang bukti lain berupa kunci T dari tangan tersangka Jailani. “Dalam beraksi Jailani mengaku tak sendirian. Karena itu polisi terus melakukan penyidikan dan penyelidikan untuk menangkap pelaku lain yang terlibat dalam sindikat tersebut,” katanya.

Humas Menghimbau kepada masyarakat yang merasa sepmornya dicuri, segera melapor ke polsek dan polres dengan membawa kelengkapan surat kenderaan, sehingga sepmornya bisa dikembalikan.


Sumber:"Tribunnews.Com"
read more...

Thursday, April 14, 2011

Kijang Seruduk Pohon, Tiga Penumpang Dilarikan ke RS

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin

LHOKSEUMAWE – Sebuah mobil jenis kijang kapsul BK 101 ST yang dikemudikan Jailani (50), warga Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe, Senin (11/4/2011) sekitar pukul 05.00 WIB menabrak pohon di lintasan jalan nasional.

Kejadian tersebut diduga karena sopir ngantuk sehingga kehilangan kendali dan mobil menyeruduk pohon, persisnya di Desa Masjid Punteut Kecamatan Blang Mangat Lhokseumawe. sehinga tiga penumpang mengalami luka-luka dan harus segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Aceh Utara di Lhokseumawe.

Informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi ketika Jailani bersama keluarganya meluncur dari kawasan Medan melaju ke arah Lhokseumawe. Namun, sesampai di kawasan tersebut, Jailani yang mengemudi mobil tersebut diduga mengantuk, sehingga mobil oleng dan langsung menyeruduk pohon persis di pinggir jalan.

Mobil mengalami ringsek berat dan tiga penumpang terluka.

Sejumlah warga yang mendengar suara hantaman benda keras langsung terbangun, dan mereka kemudian mengevakuasi korban ke RSUD Cut Meutia.

Ketiga korban itu, Eni Darwina (46), dan Fadlan (18) dan sopir, Jailani, karena ketiganya mengalami luka-luka hampir di sekujur tubuhnya. Setelah mendapat perawatan awal, kemudian mereka dirujuk ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe guna perawatan intensif.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Kukuh Santoso melalui Humas AKP Ramdhan membenarkan adanya kejadian kecelaan tunggal, akibat pengemudi kehilangan kendali sehingga menubruk pohon.

“Kini barang bukti sudah diamakan di Pos Lantas Cunda untuk proses penyilidikan lebih lanjut,” terang AKP Ramdhan.

Sumber:"Tribunnews.Com"
read more...

Saturday, April 2, 2011

Dana PKH, PT.Pos salurkan Rp1,6M

KOTA LHOKSEUMAWE - Kepala PT. Pos dan Giro Cabang Lhokseumawe,Jhoni Eka Putra, didampingi Swandi mengatakan, untuk tiga bulan pertama di tahun 2011 pihaknya menyalurkan dana Program Keluarga Harapan (PKH) senilai Rp1,6 miliar bagi para penerima yang tersebar di empat kecamatan dalam wilayah Pemkot Lhokseumawe.

Jumlah penerima di tahun 2011 berkurang hingga mencapai 299 RTSM dari jumlah tahun sebelumnya 4.900 orang. Hal ini berdampak positif karena PKH berhasil menekan jumlah keluarga miskin.

“Ini berita gembira, karena PKH berhasil mensejahterakan masyarakat di Kota Lhokseumawe. PKH mampu mensejahterakan ekonomi 299 RTSM,” kata Jhoni Eka Putra.

Dana PKH diberikan pemerintah untuk membantu rumah tangga miskin dalam bentuk sumbangan dana pendidikan dan kesehatan. Paling tinggi dana itu diberikan kepada RTSM senilai Rp500 ribu dan terendah Rp150 ribu per bulan. Dana tersebut dicairkan setiap tiga bulan sekali. Tahap pertama di tahun 2011 telah selesai, terhitung Januari, Februari dan Maret.

Pada saat penyaluran kemarin, 34 penerima tidak mengambil uang tersebut. Tidak diketahui alasannya, namun diperkirakan yang bersangkutan telah pindah atau sudah meninggal. Dana bantuan ini langsung diserahkan kepada ibu rumah tangga. Karena ibu-ibu dianggap lebih mampu menjaga bantuan itu.

“Kalau dikasih sama bapak-bapak, bisa-bisa uang itu untuk beli rokok. Bahaya sekali. Jika masih hidup dan masih tinggal di wilayah Lhokseumawe, uang itu masih bisa diambil tapi harus mendaftar ulang. Karena 34 penerima tidak mengambil maka tersisa dana Rp10 juta. Uang itu telah kita kembalikan,” katanya.

Jumlah penerima dana bantuan PKH untuk Kecamatan Banda Sakti 1895 orang, Muara Dua 1254 orang, Muara Satu 720 orang dan Blang Mangat 832 orang. Program PKH baru diuji coba di beberapa kabupaten di Aceh, jika berhasil akan diperluas kepada beberapa kab/kota lainnya. Dalam hal ini PT. Pos dan Giro bertindak sebagai penyalur.

Sumber:"Waspada"
read more...

Thursday, December 30, 2010

Pembebasan Lahan untuk Jalan Terancam Gagal

LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kota Lhokseumawe terancam gagal membayar ganti rugi tanah untuk lokasi pelebaran Jalan Puntuet- Line Pipa sekitar 3,3 kilometer lagi. Pasalnya, pemilik tanah masih menolak harga yang dibandrol panitia sembilan. “Dengan kondisi ini besar kemungkinan dana yang disediakan dalam APBK 2011 sebanyak Rp 1,5 miliar untuk pembebasan lahan itu tidak jadi digunakan,” jelas Ketua Komisi B DPRK Lhokseumawe, Husaini, kepada Serambi, Selasa (28/12).

Pada dasarnya, menurut Husaini, jalan sepanjang 4 kilometer akan dilebarkan menjadi tujuh meter dari lebar sebelumnya empat meter. Untuk tujuan itu, lanjutnya, pada tahap pertama tahun 2010 pihak pemko telah mengganti rugi lahan sepanjang 7000 meter di Desa Meunasah Punteuet. “Karena desa itu paling dekat dengan jalan negara, harga untuk areal sawah diganti rugi Rp 100 ribu per meter, sedangkan halaman rumah dibayar Rp 350 ribu per meter,” ujar Husaini.

Sedangkan untuk pembebasan lanjutan terhadap lahan sekitar 3,3 kilometer lagi, lanjutnya, pemerintah telah membandrol tanah warga seharga Rp 75 ribu per meter untuk lahan sawah dan Rp 125 ribu per meter untuk halaman rumah. “Namun menurut semua tokoh masyarakat di sana, mereka menolak harga tersebut. Karena itu warga desa itu minta agar harga tanah mereka tetap disamakan dengan Desa Meunasah Punteut,” timpalnya.

Begitu juga pemerintah, tambah Husaini, juga tak mungkin membayar harga yang sama untuk lahan sepanjang 3,3 kilometer itu dengan harga tanah di Desa Meunasah Punteut. Karena, menurutnya, pihak panitia sembilan beralasan bahwa harga untuk 3,3 kilomter itu telah disepakati pada tahun 2009. “Karena itu, kita mendesak panitia sembilan untuk bermusyawarah kembali dengan pemilik tanah soal harga lahan, sehingga proses pembangunan jalan itu tetap bisa dilakukan,” harap Husaini.(bah)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Tuesday, December 28, 2010

Warga Blang Mangat Kesulitan Air Bersih

LHOKSEUMAWE - Warga Kemukiman Meuraksa, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe mengaku kesulitan memperoleh air bersih setelah tsunami. Pasalnya, air sumur di kawasan itu telah berubah rasa menjadi asin dan suplai air bersih dari PDAM tirta Mon Pase juga sering macet.

“Sebelum tsunami, warga di kawasan kami masih bisa mengkonsumsi air sumurnya. Namun, kini sebagian besar air sumur telah berubah rasa menjadi asin, sehingga mereka terpaksa membeli air bersih Rp 3.000 per jeriken,” ungkap Abdul Gani (43), warga setempat kepada Serambi, Minggu (26/12).

Menurutnya, selama ini suplai air bersih dari PDAM Tirta Mon Pase untuk kawasan itu juga tak mencukupi karena sering macet. “Dalam sehari, suplai air dari PDAM paling lancar hanya satu jam. Bahkan kadang yang air disuplai itu tak bersih,” ujarnya.

Dijelaskan, bagi warga yang ekonominya di bawah standar terpkasa mengangkut air dari desa yang air sumurnya tidak asin. Karena itu Abdul Gani meminta PDAM Tirta Mon Pase supaya waktu suplai air bersih ke kawasan itu lebih lama dari sebelumnya. Sehingga warga setempat tak lagi kesulitan mendapat air bersih.

Sementara itu, Humas DAM Tirta Mon Pase, Tarmizi, yang dihubungi Serambi via selulernya untuk dimintai tanggapannya tentang hal tersebut tak bersedia memberi jawaban. “Saya no comment,” tulis Tarmizi melalui pesan singkat kepada Serambi, kemarin.(c37) 
 
Sumber:"Serambinews"
read more...

Tanggul Hancur, Tambak tak Bisa Difungsikan

LHOKSEUMAWE - Warga Kuala, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe meminta tanggul pemecah ombak di tepi pantai desa tersebut yang rusak beberapa waktu lalu segera diperbaiki. Pasalnya, saat ini sebagian tambak di kawasan tersebut tak bisa difungsikan karena pematangnya telah hancur diterjang ombak.

Amatan Serambi, kemarin, bagian tanggul pemecah ombak yang sudah hancur di kawasan itu mencapai seratusan meter lebih. Sehingga tambak warga di dekat tanggul itu tidak bisa dimanfaatkan untuk memelihara udang atau ikan karena sering masuk air laut. Bahkan diprediksi jika tak segera diperbaiki, kondisi ini akan terus bertambah.

“Jika tanggul itu tak segera diperbaiki, kerusakannya akan makin parah. Sehingga air laut bisa masuk ke perkampungan warga, karena tanggul itu hanya berjarak sekitar 100 meter lagi dengan rumah warga,” jelas Ismail (39), warga setempat kepada Serambi, Minggu (26/12).

Dikatakan, sebelumnya tinggi timbunan tanah untuk tanggul itu lebih dari dua meter. Tapi, sekarang karena sering terkena abrasi timbunan tanah itu makin rendah sehingga kurang berfungsi. Karena ketika pasang air laut bisa melewati tanggul tersebut. “Warga di kawasan kami umumnya bekerja sebagai nelayan dan petani tambak. Jika tambak tak bisa dimanfaatkan lagi, bagaimana kami mencari rezeki,” ujarnya. Karena itu, Ia berharap pihak terkait segera memperbaiki tanggul tersebut.(c37)
Sumber:"Serambinews"
read more...

Sunday, December 26, 2010

Suplai Air PDAM Semakin tak Menentu


LHOKSEUMAWE - Para pelanggan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Tirta Mon Pase, mengeluhkan pelayanan perusahaan tersebut yang dinilai semakin tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir. Selain suplainya air yang kerap terhenti, mutu air yang dihasilkan perusahaan tersebut juga dinilai tidak berkualitas.

“Ketidakstabilan suplai air PDAM sebenarnya sudah menjadi cerita klasik, tapi pihak PDAM selalu berdalih kalau dipertanyakan pelanggan,” ujar seorang warga Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, kepada Serambi Sabtu (18/12).

Sejumlah pelanggan di Pusong dan Lancang Garam mengaku terpaksa harus mengonsumsikan air sumur yang kadar airnya mengandung zat garam dan asam. “Kami terpaksa menggunakan air sumur, karena suplai air bersih PDAM kerap tidak lancar,” ungkap seorang pelanggan PDAM di kawasan Pusong.

Keluhan serupa juga diungkap sejumlah pelanggan PDAM Tirta Mon Pase di Kecamatan Muara Dua, Muara Satu, dan Blang Mangat. Beberapa di antara mereka bahkan menuding pihak PDAM seakan tidak peduli dengan pelayanan terhadap pelanggan. Hal ini bisa terlihat dari sejumlah titik pipa induk PDAM yang bocor tapi tak kunjung diperbaiki. “Keluhan warga telah berlangsung lama, tapi belum ada tanda tanda bahwa PDAM melakukan antisipasinya,” ujar seorang pelanggan di Blang Mangat.

Sementara itu, warga Kota Lhokseumawe yang juga merasa kecewa dengan pelayanan PDAM Tirta Mon Pase, mendesak Pemerintah Kota membangun PDAM sendiri dengan managemen profesional. Sebab, dalam kota Lhokseumawe selama ini sering terendam banjir, sehingga sebagian besar air sumur warga tidak memenuhi syarat kesehatan.

Tidak layak pakai
Direktur Utama PDAM Tirta Mon Pase, Zulfikar Rasyid, yang dimintai konfirmasinya terkait hal ini, mengakui selama ini pihaknya kerap menerima keluhan dari para pelanggan di Lhokseumawe yang jumlahnya mencapai lima ribuan sambungan. Ia juga mengakui dua hal yang paling banyak dikeluhkan adalah suplai air yang tak lancar dan mutu air yang sering bau dan berwarna kuning.

Namun, Zulfikar Rasyid punya argumen sendiri terhadap kondisi ini. Menurutnya, kedua hal yang paling sering dikeluhkan pelanggan tersebut tidak terlepas dari kondisi pipa induk yang telah berumur puluhan tahun dan tidak layak pakai lagi. Disebutkan, pipa induk lama yang berdiamater 200 cm itu sudah banyak bocor. “Sehingga mengakibatkan tekanan airnya kurang. Selain itu akibat bocor air PDAM sering terkontamisi dengan lumpur dari pipa yang bocor,” jelasnya.

Guna mengantisipasi hal ini, tambah Zulfikar yang didampingi Kabag Humasnya Tarmizi, pihaknya telah mendapatkan bantuan jaringan baru dari provinsi dan sedang dalam proses bahkan dengan ukuran pipa lebih besar berdiameter 300 cm. “Makanya mulai hari ini, kita akan memulai  pemindahan distribusi air dari jaringan lama ke jaringan pipa baru. Sehingga bila distribusi air mati sementara, kami harap pelanggan dapat mengerti,” demikian Zulfikar Rasyid.(bah/ib)
Sumber:"Serambinews"
read more...

Warga Keluhkan Hama Keong Mas

LHOKSEUMAWE - Warga Meunasah Rayeuk Kareung, Mane Kareung dan Asan Kareung, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe mengeluhkan serangan hama keong mas yang kian ganas menyerang tanaman padi mereka. Warga memperkirakan, luas padi yang diserang hama itu di tiga desa tersebut mencapai puluhan hektare. 

Amatan Serambi di lokasi, kemarin, rata-rata sawah di pinggir jalan kawasan Desa Rayeuk Kareung dan sekitarnya mati akibat dimakan hama keong mas. Apalagi dalam sawah, kini airnya penuh sehingga memudahkan hama tersebut menyerang tanaman padi yang baru ditanam sekitar seminggu lalu.

“Warga sudah berulang kali menyemprot, namun serangan hama itu tak berkurang. Apalagi di kawasan tersebut tidak ada saluran pembuang sehingga menyulitkan warga mencegahnya,” kata Jalaluddin (38), warga Desa Rayeuk Kareung kepada Serambi, Senin (20/12). 

Menurut Jamaluddin, mengganasnya serangan hama itu karena sedang musim hujan. Sehingga semua areal sawah warga yang sudah ditanami padi tergenang. Sedangkan saluran yang ada di pinggir jalan itu telah dangkal, sehingga kurang berfungsi sebagai saluran pembuang. 

“Padahal jika ada saluran pembuang, pencegahan hama itu bisa dilakukan secara maksimal. Karena warga bisa membuang air dalam areal sawah dengan cepat ketika tak dibutuhkan. Sebab, jika areal sawah kering hama itu tak bisa memakan padi dan juga mudah untuk diberantas,” jelas Jalaluddin didampingi Asiah (40) petani lainnya di desa setempat. 

Diungkapkan, serangan hama keong mas di kawasan itu terjadi tiap musim tanam sejak empat tahun lalu. Akibat serangan hama itu, menurutnya, dalam satu petak warga terpaksa harus menanam padi sampai tiga kali. Karena itu, ia berharap pihak terkait segera membangun saluran pembuang di kawasan itu dan mencari solusi agar hama keong mas dapat diberantas.(c37)
read more...

Friday, December 17, 2010

Sekeluarga Tewas Tabrakan

LHOKSUKON - Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anaknya, warga Desa Tunong, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Rabu (15/12) sekitar pukul 18.40 WIB tewas tabrakan. Kecelakaan tersebut terjadi saat sepmor jenis Vario yang mereka tumpangi menghantam truk interkuler yang parkir di pinggir jalan Medan-Banda Aceh tepatnya di Desa Pulo, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Ketiga korban itu adalah Surjani (45), Nurmala (35), dan Ayu (9).

Kapolres Aceh Utara AKBP Farid Bachtiar Efendi, melalui Kasat Lantas AKP Siswara Hadi Chandra, kepada Serambi, kemarin, menyebutkan saat kejadian sepmor Vario nopol BL 3287 NP yang dikendarai oleh Surjani melaju dari arah Medan menuju Banda Aceh.

Setiba di lokasi, sepmor itu langsung menghantam interkuler nopol BL 9435 AA yang disopiri Syahrizal (22), warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Singkil.

“Interkuler tersebut parkir di pinggir jalan sebelah kiri karena rusak. Pengendara sepmor tak dapat menghentikan laju kendaraannya yang melaju dalam kecepatan tinggi dan hilang kendali. Sehingga tabrakan tak dapat dielakkan,” jelas AKP Siswara.

Ketiga korban tewas seketika di lokasi kejadian. Setelah itu, masyarakat yang melihat peristiwa itu bersama personel polisi lalu lintas membawa korban ke Rumah Sakit Cut Meutia Lhokseumawe. Sedangkan barang bukti berupa sepmor dan interkuler dibawa ke Pos Polantas Terminal Lhoksukon. “Kita masih memintai keterangan sopir interkuler,” pungkas AKP Siswara.

Sementara ketiga jenazah korban sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (16/12) dimakamkan di Desa Tunong, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Tiga kritis
Secara terpisah, kecelakaan lalu lintas ala laga kambing antara dua sepeda motor terjadi di jalan Banda Aceh-Medan tepatnya di kawasan Desa Ie Rhop Geulumpang, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, Rabu (15/12) sekira pukul 20.00 WIB. Akibatnya, seorang pengendara mengalami patah kaki dan dua lainnya mengalami luka berat di wajah.

Informasi dihimpun dari dokter piket UGD RSUD dr Fauziah Bireuen, kemarin malam menyebutkan, ketiga korban itu adalah Kamarullah (23) yang mengalami patah pinggang dan remuk wajah dan rekannya Ismaturrahmi (23) mengalami patah di kaki kirinya. Mereka adalah warga Desa Ule Rabo, Kecamatan Jeunieb. Satu korban lainnya tanpa identitas, namun ia sempat menyebutkan dirinya bernama Muzakkir yang beralamat Desa Blang Baro Cebo, Pidie Jaya.

Menurut keterangan warga, sepmor jenis Supra Fit yang dikendarai Kamarullah bersama Ismaturrahmi datang dari arah Jeunieb menuju Samalanga. Sedangkan Muzakkir dari arah barat hendak ke Jeunieb. Sehingga terjadilah tabrakan di kawasan itu. Setelah itu, ketiga korban dalam kondisi kritis segera dibawa ke UGD RSUD Bireuen oleh warga setempat.

Kamarullah dan Ismaturrahmi, Kamis (16/12) pukul 03.00 WIB dirujuk ke Banda Aceh. Sementara Muzakkir yang sempat tidak sadarkan diri hampir empat jam saat di RSUD Bireuen baru dirujuk kemarin pagi.(c46/yus)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Wednesday, December 15, 2010

Satpol PP Beureukah Siswa Membolos

LHOKSEUMAWE - Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lhokseumawe, Senin (13/12) siang menangkap tujuh siswa SMA, di kawasan Pantai Lancok, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, karena bolos sekolah. Sedangkan puluhan siswa lainnya langsung kucar kacir ketika mengetahui adanya razia.

Kepala Satpol PP dan WH Lhokseumawe Drs Azwar melalui Kepala Seksi (Kasi) Hukum dan Trantib Raza Mahnur S STP, Selasa (14/12) menyebutkan, tujuh siswa yang terjaring tersebut, enam diantaranya berasal dari Aceh Utara, dan satu dari Lhokseumawe. Kata Reza, para siswa ditangkap sedang nongkrong di gubuk kawasan pantai lancok, setelah personil Satpol PP menerima laporan dari warga. “Ketika kami sampai di sana, mereka sedang bermain di gubuk pinggir pantai. Padahal saat itu sedang jam belajar. Mereka yang terjaring kita bawa ke kantor untuk dibina,” kata Reza.

Menurutnya, setelah dilakukan proses pembinaan di kantor Satpol PP, kemudian pihaknya memanggil dewan guru untuk mengembalikan para siswa ke sekolah masing-masing. “Setelah hadir guru mereka, siswa tersebut kita serahkan langsung kepada gurunya untuk dibina lagi,” terang reza.

Sebelumnya, kata Reza, razia siswa membolos dilakukan hanya di seputaran Kota lhokseumawe, di beberapa sudut kota seperti di terminal dan pasar buah. Namun, sekarang sudah diperluas sampai ke kecamatan lainnya, karena melihat banyak siswa membolos berkeliaran di pinggiran laut dengan pakaian seragam.

Tertipkan spanduk
Dijelaskannya, pada Selasa (14/12), mereka juga melakukan penertiban sejumah spanduk di sepanjang jalan Darussalam, sebab sejumlah spanduk itu masa berlaku sudah habis dan rawan terjadi hal hal yang tak diinginkan bagi penggguna jalan. “Kami juga menggelar operasi siswa di kawasan Ujong Blang. Namun dalam razia pagi kemarin, tak ada siswa yang terjaring lagi,” ungkapnya.(c37)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Tuesday, December 14, 2010

Rumah Warga Terendam, Sekolah Diliburkan

LHOKSUKON - Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Aceh Utara, akibat meluapnya sejumlah sungai induk, kini dilaporkan semakin meluas. Meski tidak ada laporan korban jiwa, namun banjir di pengujung tahun 2010 ini telah menyebabkan ratusan rumah warga terendam dan sejumlah sekolah terpaksa diliburkan.

Dua sungai rawan banjir adalah Sungai Krueng Pase yang melintasi beberapa Kecamatan di kawasan Meurah Mulia, Samudera, Tanah Luas, Nibong yang jumlah alirannya 10 kecamatan, termasuk Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Sementara satu sungai lagi adalah Sungai Peutoe yang membelah Kota Lhoksukon, yang melintasi beberapa kecamatan sampai ke Lapang, Tanah Pasir dan Cot Girek.

Kedua sungai tersebut di Aceh Utara, termasuk satu lagi adalah Sungai Arakundoe, perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur, sejak zaman Kolonial Belanda dikenal rawan banjir. Tiap pengujung tahun, 10 sampai 15 kecamatan di Aceh Utara, dilanda banjir kiriman. Dalam pengamatan Serambi Kamis (9/12) ketinggian air mencapai 1,5 meter, dan air mulai meluap sejak pukul 03.00 WIB dinihari.

Warga di Desa Lawang, Alue Tho, Tanjong Haji Muda, Hagu, dan Desa Meuria, Kecamatan Matang Kuli terlihat membuka dapur umum. Sedangkan di Kecamatan Geureudong Pase, desa yang terendam yakni Desa Rayeuk Jawa, Alue Awee, dan Desa Darussalam. Di Kecamatan Lhoksukon, desa yang terendam banjir Desa Dayah, Beuringen, Ngga, dan Desa Keude Lhoksukon.

Akibat banjir kali ini, puluhan rumah terendam, dan sejumlah sekolah terpaksa diliburkan. Sekolah diliburkan yakni MTSN1 Matang Kuli, SMAN 1 Matang Kuli, SDN Alue Tho, dan SDN Teupin Jaloh di Kecamatan Matang Kuli. Selaini tu, tanggul DAS Krueng Pase, di Desa Tanjong Awee, Kecamatan Samudera jebol.

Wakil Bupati Aceh Utara, Syarifuddin SE, dilaporkan ikut meninjau lokasi jebolnya tanggul di Desa Tanjong Awee, Kecamatan Samudera. Sejauh ini, belum ada evakuasi yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara. Namun, relawan PMI, SAR, Tagana, dan RAPI tampak siaga di lokasi banjir.

Salurkan bantuan
Sementara itu, PT Arun NGL, menyalurkan bantuan masa panik untuk 1.500 jiwa di enam desa di Kecamatan Matang Kuli. Enam desa itu yakni Desa Lawang, Alue Tho, Tanjong Haji Muda, Hagu, dan Desa Meuria. Staf Humas PT Arun NGL, T Edy Safari, ditemui dilokasi banjir menyebutkan pihaknya menyalurkan bantuan berupa beras, mie instan, telur, dan minyak goreng. “Seluruh bantuan didistribusikan ke lokasi banjir dengan bantuan teman-teman relawan RAPI Aceh Utara,” sebut Edy Safari.

Sementara itu, anggota Komisi C, DPRA, Zulkifli Dolly, menyebutkan pihaknya telah menyampaikan persoalan pembangunan tanggul di DAS Krueng Pase, dan Krueng Keureuto di Kecamatan Matang Kuli pada Dinas Pengairan Provinsi Aceh. “Kabar terakhir saya terima, usulan program pembangunan tanggul telah dimasukkan dalam APBA 2011. Kita, di legislatif akan mengawal usulan tersebut, yang saat ini sedang dalam pembahasan,” sebut Zulkifli.

Sementara itu di Kecamatan Samudera Kamis (9/12), kembali terendam banjir, akibat meluap air dari tanggul sungai krueng Pase, proses belajar mengajar (PBM) di MIN Tanjong Awe, juga terhenti akibat sekolah itu ikut terendam.(c46/ib/c37)

Sumber:"Serambinews"
read more...

Tuesday, December 7, 2010

Jalan sepanjang 3,5 KM amblas

LHOKSEUMAWE - Jalan desa sepanjang 3,5 Km di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, terancam amblas akibat banjir bandang yang melanda bahagian timur daerah itu dua hari lalu, sehingga transportasi darat bisa terganggu.

Anggota DPRK Lhokseumawe Husaini MH menyatakan, kondisi jalan tersebut disebabkan abrasi anak sungai Krueng Pase yang meluap akibat hujan lebat yang terus menerus dalam dua hari terakhir.

Untuk itu, ia mendesak Pemerintah Aceh segera mengucurkan dana tanggap darurat bencana membangun tanggul permanen di sepanjang jalan 3,5 kilometer tersebut.

"Tanggul irigasi anak sungai Krueng Pase ini harus segera dibangun, jika tidak jalan penghubung ibukota Kecamatan dengan desa pedalaman terancam amblas," katanya, sore ini.

Menurut Husaini, kondisi tersebut sudah sangat darurat, dan perlu penanganan segera dari Pemerintah Aceh dengan mengalokasikan dana tanggap darurat. Dan bila kondisi tersebut terus diabaikan tiga desa meliputi Desa Rayeuk Kareung, Hasan Kareung, dan Desa Mane Kareung, dikhawatirkan terus akan digerus abrasi.

Bukan hanya itu, kata Husaini, ratusan hektare lahan pertanian milik masyarakat setempat juga akan rusak akibat banjir yang meluap dari irigasi tersebut.

Marzuki, Sekretaris Desa Hasan Kareung, mengatakan, dampak meluapnya anak sungai yang melintasi tiga desa, telah mengakibatkan terkikisnya bahu jalan di empat titik.

"Tadi malam (Sabtu malam-red) muncul tanda-tanda air akan meluap lagi, sehingga sebagian masyarakat bergotong-royong memasang batangan pohon kelapa di empat titik abrasi anak sungai dengan kondisi jalan sudah amblas ini, ini upaya kita supaya badan jalan tidak terlalu lebar amblas," katanya.

Menurut Marzuki, pihaknya telah melaporkan kepada instansi terkait di Pemko Lhokseumawe dan Pemerintah Aceh menyangkut kondisi di lapangan. Menurutnya, selain laporan kepada pihak dinas, pihaknya juga menyampaikan persoalan tersebut kepada DPRK agar dewan dapat melihat langsung ke lapangan.

"Kalau selama ini hanya badan jalan yang rusak akibat tergenang banjir, kali ini jalan yang melintasi tiga gampong ini sepanjang 3,5 Km terancam amblas terkikis abrasi anak sungai," sebut Marzuki.

Sumber:"Waspada.co.id"
read more...

Wednesday, December 1, 2010

Selingkuh, mahasiswa diusir dari desa

Lhokseumawe - Seorang ibu muda USF (29), penduduk Desa Meunasah  Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, kota  Lhokseumawe, diusir warga dari desanya karena kepergok selingkuh dengan seorang mahasiswa ASP (21), yang disebut-sebut putra pejabat di salah satu dinas pemerintah kota Lhokseumawe.

USF dikabarkan selingkuh ketika suaminya sedang tidak di rumah. Ibu satu anak itu tertangkap basah adik iparnya, saat asyik bercumbu mesra dengan ASP di dalam kamar, Sabtu (13/11) sekitar pukul 16.30 WIB. Sesaat kemudian, pasangan haram itu langsung digelandang ke meunasah (surau) untuk prosesi sidang adat.

Sebelum digelandang ke meunasah, sejumlah warga melihat ASP bertandang ke rumah USF. Karena curiga, lebih-lebih ASP bertamu saat suami USF sedang tidak di rumah, warga lalu melaporkan hal itu ke adik ipar USF.

Selanjutnya, adik ipar USF bersama warga lainnya segera mendatangi rumah USF. Setelah diintai, ternyata USF dan ASP sedang bermesum ria dalam kamar.

Mendapati fakta itu, sebagian warga yang tak kuat menahan emosi, sempat pula membogem ASP. Mareka geram dengan tingkah pemuda itu karena sudah merusak rumah tangga orang.

Beruntung, luapan emosi warga masih terkontrol dan tak lama berselang, USF dan ASP diserahkan kepada tetua desa untuk disidangkan secara adat di meunasah.

Kepala Desa (Kades) Meunasah Mesjid, Abdullah, yang dihubungi secara terpisah membenarkan kasus itu. “Kami sudah menggelar musyawarah guna menyelesaikan kasus tersebut,” tandas Kades, tadi malam.

Hasilnya, kedua belah pihak diberi waktu mempersiapkan proses pernikahan. Keduanya juga didenda membayar semen pembangunan meunasah. Kemudian, untuk sementara waktu, USF juga harus meninggalkan desa ini.

Sumber:"Waspada.co.id"
read more...

Saturday, November 27, 2010

Banjir Bandang Terjang Aceh Utara dan Tamiang


Add caption
 LHOKSEUMAWE - Hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan dan hulu sungai di utara dan timur Aceh, sejak dua hari terakhir, telah menyebabkan banjir bandang (banjir kiriman), di sejumlah kawasan di Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Hujan deras juga telah menyebabkan kemacetan di ruas jalan Lamno-Calang, yang digenangi air setinggi 50 centimeter.

Sedikitnya, empat desa dalam wilayah Kecamatan Muara Dua dan satu desa di Kecamatan Blangmangat, Lhokseumawe, sejak Minggu (21/11) malam, dilaporkan diterjang banjir kiriman dari kawasan perbukitan di daerah itu. Akibatnya, aktivitas sebagian masyarakat setempat, termasuk sekolah, dilaporkan ikut terganggu.

Desa-desa yang dilanda banjir bandang itu adalah Desa Meunasah Mesjid, Uteunkot, Meunasah Alue, dan Paya Punteuet di Kecamatan Muara Dua, serta Desa Blang We Panjo di Kecamatan Blang Mangat. Bahkan, kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 7 Lhokseumawe, di Desa Unteukot, ikut terhenti akibat digenangi air akibat banjir bandang itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, kemarin, banjir bandang seperti yang dialami warga di dua kecamatan itu baru pertama kali terjadi, di mana setelah reda hujan baru air datang dan mengenangi wilayah pemukiman dan rumah-rumah mereka. “Di desa kami, banjir hanya menggenangi areal persawahan,” kata Aji, Keuchik Blang We Panjo, Kecamatan Blangmangat.

Sumber lainnya menyebutkan, pihak aparat Desa Meunasah Masjid, Senin (22/11) dini hari kemarin, terpaksa mengimbau warga yang rumahnya digenangi banjir untuk mengungsi ke masjid. “Setelah kita imbau, ada 40 kepala keluarga yang mengungsi ke masjid. Namun, sebagian besar warga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing,” kata Keuchik Meunasah Masjid, Irwan Yusuf.

Hujan deras yang terus turun sejak dua hari terakhir, juga telah menyebabkan sejumlah ruas jalan di Kota Lhokseumawe ikut digenangi banjir. Bahkan, ruas jalan di simpang Kantor Pos hingga ke RS Kesrem dan jalan Lancang Garam digenangi air sampai 35 centimeter.

Dikepung banjir
Sementara itu, dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dilaporkan kawasan hulu Sungai Tamiang di Kecamatan Tenggulun dan Kecamatan Tamiang Hulu kini juga dikepung banjir setinggi satu meter. Bahkan, Desa Seulamat di Kecamatan Tenggulun, sejak Minggu (21/11) malam lalu, dilaporkan sempat diterjang banjir bandang.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir tersebut namun aktivitas warga lumpuh, warga hanya siaga dan berdiam diri di rumah, khawatir  jika tiba-tiba air terus meningkat. Sementara sejumlah sekolah walaupun tidak libur terpaksa ditutup, tidak ada aktivitas belajar karena murid–muridnya tidak bisa hadir ke sekolah akibat banjir.

Camat Tenggulun, Rafiie, mengatakan beberapa desa dalam wilayah kecamatan yang dipimpinnya itu terendam banjir. Di antaranya, Desa Simpang Kiri banjir menggenangi tiga dusun yakni Dusun Termal, Sisirau, dan Pondok. “Tapi yang paling parah adalah Desa Seulamat, yang diterjang banjir bandang dengan ketinggian air sebatas dada orang dewasa,” katanya kepada Serambi, kemarin.

Banjir juga merendam Desa Tenggulun dan menggenangi badan jalan yang membuat arus transportasi ikut terganggu. Sedangkan sekolah di Simpang Kiri tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena muridnya tidak bisa hadir kesekolah akibat rumah mereka banjir. Banjir kali ini, juga menggenangi sejumlah kawasan di dalam kota Kuala Simpang, ibukota Aceh Tamiang.

Mengalami kemacetan
Semendata itu, sejak Minggu (21/11) siang sampai Senin (22/11) Sore kemarin, ratusan kenderaan umum dan pribadi di wilayah rakit Kuala Unga, Meudang Ghon dan Lambeso masih mengalami kemecetan. Kondisi ini terjadi akibat tingginya curah hujan yang melanda wilayah tersebut sehingga mengakibatkan jalan tanggap darurat yang dibangun TNI lima tahun lalu digenangi air hingga ketinggian 50 cm.

Selain itu akibat derasnya arus sungai Kuala Unga dan Lambeso, penyeberangan kenderaan umum dan pribadi, pada kedua rakit tersebut ikut terganggu. Menurut sejumlah sopir Mini Bus L-300 jurusan pantai barat, kemecetan dan antrean panjang kenderaan umum dan pribadi yang berangkat dari Banda Aceh menuju Meulaboh, maupun sebaliknya, yang hingga Senin (22/11) kemarin belum teratasi.

Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh, Ir Muhyan Yunan yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, membenarkan bahwa arus lalu lintas dari Calang-Lamno masih mengalami kemacetan. Sampai kemarin, antrean panjang ratusan kenderaan umum dan pribadi terlihat di jalur rakit Kuala Unga dan Lambeso. “Antrean panjang juga disebabkan arus penyeberangan rakit, yang memakan waktu 6-8 jam untuk bisa diseberangkan,” katanya.

Untuk mengatasi kemecetan penyeberangan di dua lokasi rakit itu, kata Muhyan, solusinya harus menunggu air sungai menurun. Sedangkan untuk mengatasi kemecetan kenderaan yang terperangkap lumpur di Meudang Ghon, pada ruas jalan tanggap darurat yang dibangun TNI lima tahun lalu, baru bisa dilakukan setelah air yang tergenang di badan jalan sudah kering.

Wakil Ketua II DPRA, yang mengkoordinir Bidang Infrastruktur, Drs H Sulaiman Abda, kemecetan ini terjadi akibat lambanya penyelesaian pembangunan ruas jalan Lamno-Calang, terutama untuk pekerjaan Section IV. “Kemecetan arus lalu lintas terjadi pada ruas yang jembatan dan badan jalan yang belum dikerjakan Sangyong, rekanan USAID,” katanya.

Untuk mengatasi kemacetan pada ruas jalan itu, kata Sulaiman Abda, seharusnya pihak Dinas BMCK, bersama Dinas PU Aceh Jaya dan Sangyong, kontraktor yang ditunjuk USAID melanjutkan pekerjaan ruas jalan Section IV tersebut menjaga badan jalan tanggap darurat jangan sampai digenangi air hujan pada waktu musim hujan.

Dikatakannya, badan jalan tanggap darurat itu sangat riskan terhadap truk yang bermuatan 30-40 ton, di mana setiap musim penghujan, tetap ada truk yang terperosok lumpur di jalan tanggap darurat. “Ini menunjukkan badan jalan tanggap darurat itu tidak mampu menahan beban truk yang bermuatan 30-40 ton,” ujar Sulaiman Abda.(bah/c37/ib/md/her)   

Sumber:"Serambinews.Com"
read more...

Thursday, November 25, 2010

Irigasi Krueng Pase terancam ambruk

LHOKSEUMAWE - Irigasi Krueng Pase, Aceh Utara yang diperbaiki sementara setelah diterjang banjir tahun 2008 kini dikhawatirkan akan ambruk kembali. Karena menurut teknisi, daya tahan bangunan itu hanya sekitar 2,5 tahun. Karena itu, warga setempat berharap pemerintah segera membangun irigasi sayap kiri tersebut dengan bangunan permanen.

Imum Mukim Tunong, TM Nur didampingi Razali, tokoh masyarakat setempa mengatakan, akibat rusaknya bendeungan itu hampir 1,5 tahun warga di sembilan kecamatan gagal panen, termasuk Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Hal itu terjadi karena sawah di daerah itu mengalami kekeringan.

Kadis Sumber Daya Air (SDA) Aceh Utara, Mawardi, mengakui daya tahan bendungan darurat Irigasi Krueng Pase Sayap kiri hanya dua atau tiga tahun. Bahkan pihak Pengairan Aceh telah mendesain bangunan baru dan Pemkab Aceh Utara terus berupaya agar bisa membangun bendungan baru.

Namun, kata Mawardi, kini yang menjadi kendala adalah dana untuk ganti rugi lahan belum tersedia, walau pada awal tahun 2010 telah diprogramkan dapat dipenuhi.

“Sekarang kami sedang berusaha agar  pembangunan bendungan baru dapat segera dilaksanakan,” jelas Mawardi.

Jika dibangun kembali, tambahnya, posisi bangunan akan bergeser sekitar 2,5 kilometer dari lokasi sekarang. Karena lokasi bendungan baru yang dirancang tersebut lebih tinggi dari yang ada saat ini

Sumber:"Waspada.co.id"
read more...

Thursday, October 7, 2010

Gagal Hadang Buldozer, Warga ‘Serbu’ DPRK

* Minta Kejelasan Ganti Rugi Tanah
 
LHOKSEUMAWE – Puluhan warga Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe dan Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Rabu (6/10) sekitar pukul 09.00 WIB ‘menyerbu’ Gedung DPRK Lhokseumawe guna minta kejelasan ganti rugi tanah di Desa Blang Adoe, Kuta Makmur. Pasalnya, warga mengklaim lahan seluas 12 hektare yang saat ini mulai dibersihkan untuk pembangunan pasar komoditi adalah milik mereka. Dua sehari sebelumnya berturut-turut, warga juga menghadang alat berat jenis buldozer ketika lahan itu dibersihkan.

Amatan Serambi, mulai sekitar pukul 09.00 WIB wargaa mulai tiba di Gedung DPRK Lhokseumawe untuk meyampaikan aspirasinya. Lalu, mereka beraudiensi dengan Ketua Komisi A DPRK setempat dan Camat Blang Mangat, Munadi.

Perwakilan warga, Hanisah (35) mengatakan warga tetap menuntut ganti rugi tanah seperti yang disampaikan sebelumnya dalam pertemuan dengan Kadis Cipta Karya Aceh Utara Arifin Hamid di makodim setempat beberapa waktu lalu. Saat itu, lanjut Hanisah, warga menawarkan harga tanah Rp 25.000 per meter. Tapi akhirnya warga setuju dengan harga yang ditawar Kadis yaitu Rp 12.500 per meter.

“Kami datang ke DPRK Lhokseumawe, karena dulu proses pengurusan surat jual beli tanah itu masuk dalam wilayah Jeulikat Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Karena itu, kami minta sebelum pasar itu dibangun, diselesaikan dulu proses pembayaran tanah. Sehingga  tak menghambat pembangunan pasar itu,” harapnya.

Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe, Sudarwis mengatakan pihaknya tak bisa memberi jawaban karena harus berkonsultasi dengan Pemkab Aceh Utara apakah wilayah itu masuk Aceh Utara atau Lhokseumawe. “Tapi, jika warga ingin menuntut haknya silakan tempuh jalur hukum dulu. Karena meski warga memiliki surat, tapi sertifikat yang dimiliki Pemkab Aceh Utara sudah cukup lama dibanding surat warga,” jelasnya. Jika pengadilan nanti memutuskan tanah itu milik warga, menurut Sudarwis, pemerintah harus membayar ganti rugi.

Secara terpisah, Kadis Cipta Karya Aceh Utara Arifin Hamid kepada Serambi mengatakan dirinya tak pernah menyatakan akan membeli itu dengan harga Rp 12.500 per meter. Tapi, ia mengaku setelah rapat saat itu hanya menanyakan berapa pasaran harga tanah di kawasan itu. “Saya tak mungkin menawarkan harga tanah itu. Jika pun tanah tersebut harus dibeli, ada tim sembilan yang menentukan harganya. Apalagi pemkab memiliki sertifikat tanah itu,” pungkasnya.(c37)
Sumber:"Serambinews"
read more...

Tuesday, October 5, 2010

Muspida Ziarahi Makam Pahlawan

LHOKSEUMAWE - Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Deni K Irawan bersama unsur Muspida Aceh Utara dan Lhokseumawe, prajurit TNI, dan jajaran anggota persit KCK Koorcab Rem 011 Senin (4/10) berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) di Desa Blang Panyang, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-65 TNI yang jatuh pada hari ini Selasa (5/10).

Kepala Penerangan Korem Mayor Inf Tengku Muhammad Khair SE,  mengatakan ziarah makam pahlawan merupakan rutinitas kalangan pejabat TNI/Polri, pemkab dan pemko di jajaran Korem 011/LW tiap hari-hari besar seperti Hari Pahlawan 5 Oktober. “Dengan HUT TNI ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada di wilayah Korem 011/L agar mengingat jasa pahlawan,” harapnya.(ib)

Sumber:"Serambinews"

read more...

Wednesday, September 22, 2010

Pemko Bangun Jalan ke Meuraksa

LHOKSEUMAWE - Pemko Lhokseumawe akan membangun jalan di pinggir Krueng Cunda tembus ke Meuraksa. Jalan sepanjang 4,5 kilometer tersebut dibangun dengan dana APBK secara bertahap. Jalan yang  saat ini sedang dikerjakan oleh salah satu kontraktor daerah, diharapkan dibangun sesuai harapan masyarakat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Lhokseumawe, HT Zuhedi, Senin (20/9) mengatakan, tahap pertama pembangunan jalan itu saat ini sedang dikejakan dengan dana sekitar Rp 1 M tersedia. Setelah itu baru dilanjutkan tahap kedua. Namun, ia belum tahu berapa jumlah dana akan dibutuhkan sampai jalan itu selesai dibangun.

Dengan dibangunnya jalan lingkar sepanjang muara sungai Cunda itu, lanjut Zuhedi, tentunya bisa mendukung pembangunan waduk raksasa yang kini mulai dimanfaatkan sebagai tempat wisata bahari. “Pembangunan jalan itu dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. Karena, sejumlah pengguna jalan yang arah ke timur tentu akan melewati jalan lingkar itu. Namun, untuk truk dan interculer tak mungkin melintasi jalan itu,” katanya.(ib)
Sumber:"Serambinews"
read more...